• Twitter
  • Technocrati
  • stumbleupon
  • flickr
  • digg
  • youtube
  • facebook

Follow our Network

Colombella, Acep Zamzam Noor

0

Label:

Aku masih digayuti kabut yang semalam melaju dalam tidurku Melewati petak-petak ladang, tangki air dan lengkung biru Pebukitan. Rumah-rumah kotak yang kecoklatan Jalan-jalan kecil yang melingkar serta sebuah sungai Yang berliku membelah perkampungan Semuanya bermuara di mataku


Ini masih awal musim semi, kureguk Hangatnya kopi serta bait-bait pendek Ungaretti Betapa angin telah menggemburkan permukaan tanah Dengan lidahnya. Topan mengkilapkan wajah bebatuan Sebuah lapangan kota lama yang lahir kembali Dengan katedralnya yang lain


Ini masih awal musim semi Semburat matahari menerobos kaca dan sayup-sayup Kudengar dengus pepohonan yang menahan getar birahi Akar-akarnya. Ladang-ladang menghamparkan tikar pandan Sungguh musim semi telah membangunkan tidur bumi Yang panjang. Ketika langit menguraikan rambut ikalnya Sebuah kastil putih muncul dari balik pebukitan Dengan air mancurnya yang menyemburkan kilatan cahaya


1993-1997

Firenze, Acep Zamzam Noor

0

Label:

Ingin kulepaskan hasratku Ke pusat gairahmu Seperti peristiwa-peristiwa biasa Yang dikekalkan waktu Menjadi patung dan lukisan. Begitu pula jalan-jalan Kaki lima yang berliku Sungai besar Jembatan-jembatan tua Patung-patung serta lampu-lampunya

Sejak kulewati sebuah kastil dengan taman bunganya Kebun anggur tumbuh di dadaku Aku berjalan dengan lonceng di telinga Mendirikan menara bagi pendengaranku Lalu membayangkan sepasang air mancur Di kedua tanganku. Kumasuki semua butik dan museum Hingga aku menjadi sepatu di halaman toko buku angka-angka tahun berloncatan Hari-hari meloloskan diri Dari perangkap kesementaraan

Sungguh ingin kulekatkan gairahku Pada bunyi lonceng Katedralmu. Seperti adegan-adegan pertobatan Sepanjang dinding marmar yang kekal Atau dilumuri ambar dan kemiri -- Lalu aku berjalan sendiri Ke deretan bangku-bangku kosong itu Duduk, tersedu dan membusuk Bersama sajak-sajakku


1993-1997

Louvre, Acep Zamzam Noor

0

Label:

Cahaya remang yang melumuri trotoar berbatu Menyentuh juga tiang-tiang lampu yang berukir indah Sepanjang jembatan itu. Seperti jemari senja yang lentik Cahaya merayapi tubuh jalanan, memanjati dinding-dinding pualam Lalu mengaburkan diri pada pusaran kabut yang berwarna:


Paris berkilauan dalam sebuah piramida kaca

1997

Pernyataan Cinta, Acep Zamzam Noor

0

Label:

Kau yang diselubungi asap

Kau yang mengendap seperti candu

Kau yang bersenandung dari balik penjara

Tanganmu buntung karena menyentuh matahari

Sedang kakimu lumpuh


Aku mencintaimu

Dengan lambung yang perih

Pikiran yang dikacaukan harga susu

Pemogokan serta kerusuhan yang meletus

Di mana-mana. Darah dan airmataku tumpah

Seperti timah panas yang dikucurkan ke telingan

Kubayangkan tanganmu yang buntung serta kakimu

Yang lumpuh. Tanpa menunggu seorang pemimpin

Aku mereguk bensin dan menyemburkannya ke udara

Lalu bersama mereka akumelempari toko

Membakar pasar, gudang dan pabrik

Sebagai pernyataan cinta


Betapa menyedihkan mencintaimu tanpa kartu kredit

Tanpa kamar hotel atau jadwal penerbangan

Para serdadu berebut ingin menyelamatkan bumi

Dari gempa dahsyat. Kuda-kuda menerobos pagar besi

Anjing-anjing memercikkan api dari sorot matanya

Sementara aku melepaskan pakaian dan sepatu

Ternyata mencintaimu tak semudah turun ke jalan raya

Menentang penguasa atau memindahkan gunung berapi

ke tengah-tengah kota


Aku berjalan dengan membawa kayu di punggungku

Seperti kereta yang menyeret gerbong-gerbong kesedihan

Melintasi stasiun-stasiun yang sudah berganti nama

Kudengar bunyi rel yang pedih tengah menciptakan lagu

Gumpalan mendung meloloskan diri dari mataku

Menjadi halilintar yang meledakkan kemarahan

Pada tembok dan spanduk. Aku mencintaimu

Dengan mengerat lengan dan melubangi paru-paru

Aku mencintaimu dengan menghisap knalpot

Dan menelan butiran peluru


Wahai kau yang diselubungi asap

Wahai kau yang mengendap seperti candu

Wahai kau yang terus bersenandung meskipun sakit dan miskin

Wahai kau yang merindukan datangnya seorang pemimpin

Tunggulah aku yang akan segra menjemputmu

Dengan sebotol minuman keras

1998